Menilai Efektivitas Aset Dalam Mendapatkan Laba

Menilai Efektivitas Aset Dalam Mendapatkan Laba

Aset (asset) adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan memberikan manfaat ekonomi di masa yang akan datang. Dalam dunia usaha, aset merupakan sebuah kewajiban yang harus dimiliki tiap perusahaan. Sama halnya dengan BUMDes, badan usaha di desa ini memiliki kewajiban yang sama dengan perusahaan pada umumnya untuk mengelola aset desa. Mengapa demikian?

Karena dalam definisi  BUMDes yang tertuang di Permendesa Nomor 4 Tahun 2015 tentang pendirian, pengurusan dan pengelolaan, dan pembubaran Badan Usaha Milik Desa menyebutkan, BUMDes adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa  yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar – besarnya kesejahteraan masyarakat desa.

Nilai aset dapat dilihat dalam laporan neraca yang terbagi menjadi 2 (dua), yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar adalah jenis aset yang dapat digunakan dalam jangka waktu dekat, biasanya satu tahun. Contohnya seperti kas, piutang, investasi jangka pendek, dan persediaan. Sedangkan aset tidak lancar adalah jenis aset yang diharapkan dapat digunakan selama lebih dari satu tahun, contohnya seperti gedung, peralatan dan mesin, tanah dan investasi jangka panjang.

Perlu diketahui, aset dapat dinilai efektivitasnya dengan menggunakan rasio keuangan, seperti ROA (Return on Assets) atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Tingkat Pengembalian Aset, yakni rasio profitabilitas yang menunjukkan persentase keuntungan (laba bersih) yang diperoleh perusahaan sehubungan dengan keseluruhan sumber daya atau rata-rata jumlah aset. Dengan kata lain, ROA adalah rasio yang mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode. ROA dinyatakan dalam persentase (%). 

Jadi, dapat dikatakan, satu-satunya tujuan aset perusahaan adalah menghasilkan pendapatan dan tentunya juga menghasilkan keuntungan atau laba bagi perusahaan itu sendiri. Rasio ROA ini dapat membantu manajemen dan investor untuk melihat seberapa baik suatu perusahaan mampu mengkonversi investasinya pada aset menjadi keuntungan atau laba (profit). Tingkat Pengembalian Aset atau ROA ini sebenarnya dapat dianggap sebagai imbal hasil investasi (return on investment) bagi suatu perusahaan karena pada umumnya aset modal (capital assets) seringkali merupakan investasi terbesar bagi kebanyakan perusahaan. Dengan kata lain, uang atau modal diinvestasikan menjadi aset modal dan tingkat pengembaliannya atau imbal hasilnya diukur dalam bentuk laba atau keuntungan (profit) yang diperolehnya.

Dengan demikian, ROA dihitung dengan cara membagi laba bersih perusahaan (biasanya pendapatan tahunan) dengan total asetnya dan ditampilkan dalam bentuk persentase (%). Ada dua cara umum dalam menghitung ROA, yaitu dengan menghitung total aset pada tanggal tertentu atau dengan menghitung rata-rata total aset (average total assets).

Terakhir, bagi para pengurus BUMDes di Indonesia yang ingin lebih tahu wawasan mengenai keuangan BUMDes, bisa sekali datang ke Sekolah BUMDes di Yogyakarta untuk cek kesehatan usaha (CKU) BUMDes dan juga akan ada showing SAAB (Sistem Aplikasi Akuntansi BUMDes). Kami tunggu di Yogyakarta, Sahabat Bumdes.id. Salam BUMDes, Terus Bergerak! (surya/bumdes.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *