Cara Anak Muda Desa Melawan ‘The Power of Maido’

Cara Anak Muda Desa Melawan ‘The Power of Maido’

Jangan terkecoh judul di atas, ‘The Power of Maido’ istilah plesetan dari kata Maido, sebuah istilah Bahasa Jawa yang berarti sikap meragukan sesuatu. Ini adalah sikap yang banyak dialami anak-anak muda di desa ketika mereka hendak berkiprah membangun desanya. 

Dari banyak perjumpaan Bumdes.id dengan para pemuda desa di berbagai belahan wilayah bumi pertiwi ini, banyak anak muda mengeluh tidak mendapatkan ruang untuk berkiprah membangun desanya sesuai dengan ide yang diusungnya. Padahal, kata sebagian mereka, idenya cukup cemerlang menciptakan perubahan di desanya. 

Peri kehidupan di desa yang terlokalisir secara sosial itu memang memiliki pola relasi yang sangat intens antarpersonal. Di kampung-kampung, semua orang saling mengenal sejak kecil hingga dewasa sehingga satu orang dengan orang lainnya memiliki penilaian yang kuat mengenai kelemahan dan kelebihan orang lain di lingkungan sekitarnya. 

Kedekatan inilah yang membuat kalangan sepuh alias tua tidak mudah mengakui ‘anak kecil’ yang dulu bermain kelereng telah menjadi anak muda dengan semangat dan energi yang besar. Sebagian kalangan tua bahkan masih menganggap anak-anak muda sebagai anak-anak yang beberapa waktu lalu masih dianggap anak-anak. 

Akibatnya, usulan, pemikiran dan ide-ide anak-anak muda dalam rapat-rapat warga, rapat desa dan sebagainya seringkali masih dianggap sebagai ide yang ‘belum perlu dianggap penting dan mengandung banyak kelemahan karena usia mereka yang masih sangat belia’. Pola pemikiran inilah yang kemudian melahirkan sikap ‘Maido’ alias meragukan, meminjam bahasa ilmiah ‘kesahihan’ ide anak muda. Alhasil, ide-ide segar anak muda seringkali hilang tertiup waktu.

Di sisi lain, karena hanya menganggap ide golongan sepuh yang dianggap layak maka seringkali sebuah desa tak mampu menciptakan perkembangan signifikan bahkan monoton dan cenderung mengulang-ulang kegiatan masa lalu. 

Seperti yang dialami Gandi Saputro, pengurus obyek wisata HUtan Pinus Puncak Becici di Desa Muntuk, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Kepada Bumdes.id Gandi berkisah, dirinya harus berkali-kali menelan ludah ketika idenya mengembangkan hutan pinus di desanya menjadi obyek wisata alam. “ Padahal sudah mulai banyak foto hutan pinus Becici bertebaran di Facebook dan Instagram. Masalahnya para tetua kampung tidak paham media sosial,” kata Gandi. 

Tapi Gandi dan beberapa pemuda tidak putus asa. Mereka terus mendesak warga untuk memberi ijin mereka mengembangkan area hutan pinus itu menjadi obyek wisata tanpa merusak ekosistem yang ada alias sesuia aturan pemerintah. Beberapa pemuda lalu membersihkan rumut, menciptakan beberapa spot sederhana untuk ber-swafoto dan menyiapkan lahan parkir. Mereka juga menyebarkan menciptakan foto dan menyebarkan melalui akun media sosial gratisan. Hasilnya?

Dalam beberapa bulan saja kunjungan meningkat. Tak sampai setahun, hutan pinus yang dulu dianggap angker dan dihindari orang itu menjadi tujuan wisata yang mengundang banyak pengunjung. Empat tahun kemudian Puncak Becici menjadi salahsatu tempat wisata urutan atas di Yogyakarta bersama beberapa obyek wisata pinus lainnya di sepanjang jalur di desa ini. 

“ Butuh kesabaran sekaligus strategi agar kaum tua percaya terhadap ide anak muda seperti kami. Terutama harus menjelaskan situasi kekinian yang mereka tidak paham misalnya perkembangan wisata, fungsi media sosial dan sebagainya,” kisah Gandi. Proses meyakinkan kaum tua itu dilakukan secara intens dan penuh tata krama. “ Kalau menuruti emosi anak muda, malah bisa berakhir menjadi konflik kaum muda dan tua di desa. Jangan emosional,” katanya. 

Pembuktian adalah cara yang paling efektif membuktikan kualitas ide anak muda di desa. Sumarno, anak muda di desa yang sama dengan Gandi membuktikan, idenya menyulap semak-belukar di pinggiran desanya menjadi obyek wisata terbukti gemilang. Tempat wisata bernama Ecopark Jatisari di Kampung Seropan, Dlingo bahkan menjadi tempat syuting Film Sultan Agung yang terkenal itu. Tentu saja momen ini membuat Jatisari Ecopark menjadi kondang.

Tetapi membuktikan ide bukan perkara gampang. Pada banyak kasus, gagasan anak-anak muda ditampik golongan tua dalam rapat-rapat desa karena anak-anak muda itu gagal membuktikan ide mereka. “ Anak muda masih sangat emosional, kadang-kadang mereka sendiri tidak konsisten dengan idenya karena pikirannya cepat berubah. Ini yang membuat mereka sering kena ‘paido’” kata Marno. 

Maka teranglah kini, jika di desa Anda para orangtua masih mendominasi keputusan arah pembangunan desa maka anak-anak muda harus mampu membuktikan gagasan mereka memang bisa dioperasionalkan. Bukan hanya teori atau malah menjiplak ide desa sebelah tanpa mempertimbangkan potensi dan situasi desa mereka. Jadi, tak perlu kawatir dengan ‘The Power of Maido’, kekuatan itu bisa ditundukkan.(adji/bumdes.id)   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *