Kampoeng Mataraman, Bisnis Kuliner Sekalius Menjual Inspirasi

Kampoeng Mataraman

Pintu masuknya tak semegah rumah makan besar pada umumnya. Sebuah pohon besar dengan sebuah papan bertuliskan ‘Kampoeng Mataraman’ akan menyambut kedatangan Anda. Tetapi begitu masuk di dalamnya, Anda bakal temui sebuah ‘dunia yang lain’ yaitu sebuah pelataran dengan suasana mirip jaman Kerajaan Mataram. Itulah Kampoeng Mataraman.

Kampoeng Mataraman adalah sebuah rumah makan dengan nuansa desa masa lalu, desa di era Kerajaan Mataram. Ini adalah salahsatu unit usaha milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggung Lestari, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Apa saja yang istimewa dari tempat ini?

Ini bukan tempat rumah makan mewah yang menawarkan deretan masakan mahal. Bukan pula restoran dengan interior gemerlapan. Melainkan sebuah rumah makan dengan enam bangunan pendopo di dalamnya. Pendopo-pendopo itu juga bukan bangunan baru melainkan bangunan lama yang diusung ke tempat itu.

Meja kursinya juga sama sekali bukan baru melainkan meja kursi bekas dari kantor, unit usaha lain dan sebagainya. Di sini Anda bisa memilih untuk makan sembari lesehan di dalam pendopo atau makan sambil menikmati desau angin di meja luar ruangan. Tak perlu kawatir, rerimbun pohon akan menghalau terik yang menyengat.

Menu makanannya adalah cita rasa lokal seperti sayur lodeh, ikan tawar goreng, beberapa oseng dan sayur khas desa seperti sayur nagka, sayur terong dan sebagainya. Ayam goreng, tempe bacem dan sambal adalah sajian lainnya. Anda juga bisa memesan pisang goreng, tempe goreng dan aneka minuman tradisional di sana.

Semua jenis masakan di tempat ini dirack dari bahan-bahan terpilih dan sangat sehat. Kampoeng Mataraman memang prototipe rumah makan yang menawarkan makanan sehat yang sebagian besar bahannya adalah produk lokal desa. Jadi, Anda memang benar-benar berada di sebuah desa.

Yang paling istimewa dari tempat ini memang bukan mejanya, bukan pendoponya, tetapi nuansa desa masa lalu yang bakal menyergap Anda dari seluruh penjuru arah. Para pelayan yang berseragam kebaya khas masa lalu. Para pelayan pria yang mengenakan kain lurik sebagai seragam mereka. Satu lagi, cara mereka menyajikan suguhan juga sangat khas: keramahan warga desa.

Uniknya, para pekerja di tempat ini bukan lulusan pendidikan tata boga, bukan pula lulusan sekolah pariwisata yang sudah menguasai tata cara memperlakukan tetamu. Melainkan para janda yang harus memikul ekonomi keluarga, anak-anak muda yang kelelahan mencari kerja dan tak ketemu juga serta para kepala rumah tangga yang selama ini kerepotan memenuhi kebutuhan ekonominya.

Mereka dikumpulkan BUMDes, diajak bekerja membangun usaha bersama, yang terpenting toleransi satu sama lain, saling menjaga kerukunan dan berbagi tugas melalui SOP yang dibuat Tim Manajemen yang menjalankan usaha ini. Hasilnya, Kampoeng Mataraman tak pernah sepi kunjungan. Bahkan jika Anda membawa rombongan untuk makan di sana, jangan sakit hati kalau tidak kebagian tempat, saking ramainya.

Suasana yang dibangun tempat ini memang unik dan sangat Instagramable. Mengambil gambar di tempat ini bakal tampak seperti gambar yang diambil bertahun-tahun lalu. Spot yang paling banyak digunakan untuk berfoto adalah jembatan bambu yang melengkung di atas kolam di bagian selatan deretan pendopo utama. Hanya itu yang menarik? Sama sekali bukan, masih ada sebuah kekuatan yang membuat tempat ini selalu diserbu orang.

Kampoeng Mataraman adalah rumah makan yang sukses menancapkan brand-nya sebagai tepat berkumpulnya para pegiat desa dari seluruh Indonesia. Ini adalah tempat para perangkat desa, aktivis desa, anak-anak muda yang berkecimpung dalam kegiatan Non Government Organization (NGO) berkumpul berbagai pikiran dan tempat bagi berbagai acara digelar.

Ya, Kampoeng Mataraman adalah simbol kekuatan warga desa berbagai kisah, peran dan kerjasama melalui rua-rupa tema, aneka kegiatan komunitas dan sebagainya. Jangan kaget, setiap hari selalu saja ada rombongan dari berbagai desa mulai dari kelompok ibu-ibu arisan, para pemuda yang sedang sibuk menggelar kegiatan di desa dan sebagainya telah memesan beberapa sudut ruangan.

Kampoeng Mataraman juga menjadi salahsatu tempat Bumdes.id menggelar berbagai acara. Jika Anda ke sana, ada sebuah pendopo bertuliskan Bumdes.id, di sanalah bumdes.id menggelar diskusi, pelatihan dan berbagai kegiatan desa. Ada banyak kelompok masyarakat atau lembaga yang lain yang juga sering menghelat acara di tempat ini, di beberapa pendopo lainnya. Semua aktivitas itu dilayani oleh 48 karyawan yang bekerja di sini.

Tapi meski bernuansa tradisional, transaksi di tempat ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi kasir modern. Jadi, harga makanan dan sistem pelayanannya sudah memiliki pola yang modern dan teratur secara apik.

Memasuki tahun keempat, rumah makan yang berdiri di atas tanah kas desa yang bertahun-tahun tak terpakai itu membuktikan, ternyata BUMDes juga bisa menciptakan sebuah entitas bisnis yang benar-benar baru. Bukan hanya mengandalkan potensi alam yang sudah ada, atau anugerah alam berupa obyek wisata.

Kampoeng Mataraman lahir karena BUMDes Panggung Lestari belajar dengan keras mengenai manajemen usaha, mengenai bagaimana melihat peluang dan memanfaatkan potensinya sendiri untuk menjawab peluang yang ada. Hasilnya, memasuki tahun keempat, Kampoeng Mataraman membukukan keuntungan sebelum audit sebesar Rp. 3,8 miliar. Angka yang tidak kecil bagi sebuah usaha berupa rumah makan di tengah persaingan sengit bisnis kuliner di Jogja.

BUMDes Panggung Lestari yang sejak awal bergandengan tangan dengan Bumdes.id dalam hal sistem manajemen usaha, berhasil membuktikan bahwa BUMDes jika dikelola dengan baik maka akan mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi banyak orang. Tak hanya membukukan keuntungan besar secara rupiah, tetapi juga membuka lapangan kerja, menciptakan pendapatan melalui penyediaan bahan baku makanan dan terutama membuktikan, partisipasi aktif warga pada aktivitas BUMDes adalah modal sosial yang bisa menciptakan unit usaha yang menguntungkan.

Tak mengagetkan makanya jika Panggungharjo dan Kamoeng Mataraman selalu banjir tetamu dari berbagai kota, berbagai desa dari beragam wilayah nusantara. Tempat ini memang memberi inspirasi dan keyakinan bagi para pembelajar bahwa desa sesungguhnya memiliki kekuatan besar untu bisa membangun kekuatan ekonominya secara kreatif dan mandiri. Salam Desa!(aryadji)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *