Beragam Wawasan Baru pada Pelatihan BUMDes Angkatan 15 Bumdes.id

Beragam Wawasan Baru pada Pelatihan BUMDes Angkatan 15 Bumdes.id


Mengikuti Pelatihan BUMDes bakal memberi Anda banyak wawasan baru. Seperti Pelatihan BUMDes Angkatan 15 yang digelar Bumdes.id pada 28 Februari – 3 Maret lalu. Diikuti 24 orang peserta yang sebagian besar adalah para akademisi, seluruh peserta asyik menyimak materi yang dipapar para penyaji.

Seperti pada hari kedua Pelatihan yang menghadirkan pembicara Wahyudi Anggoro Hadi, Kepala Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Bertempat di Ruang Pertemuan Syncore Indonesia di Jl. Solo 9,7 Yogyakarta, Wahyudi ‘memukau’ para peserta ketika memaparkan perjuangannya melahirkan berbagai program desa dan BUMDes sehingga dirinya berhasil menyabet gelar Kepala Desa Terbaik Nasional 2014 lalu.

Sesi pertama, Wahyudi menceritakan tentang pengalamannya dalam melahirkan unit usaha BUMDes di Panggungharjo seperti Kampung Dolanan, Bank Sampah, dan yang terbaru Kampoeng Mataraman. Wahyudi menjelaskan, BUMDes harus bisa dipandang dari tiga perspektif, yakni ekonomi, sosial, dan politik. Dalam segi ekonomi, sebuah badan usaha harus bisa memahami entrepreneurship agar menghasilkan profit.

Dari sisi sosial, BUMDes harus bisa membangun social spirit dengan menciptakan ketahanan sosial. Usaha di desa tidak boleh dikonstruksi menjadi kompetitor bagi usaha yang sudah dijalankan oleh warga desa, karena hal itu akan berakibat fatal yakni mematikan usaha warga desanya sendiri. Lalu bagaimana mengukur keberhasilan BUMDes?

Ukuran keberhasilan suatu usaha dilihat dari sisi benefit-nya, yakni seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat desa. Sedangkan dari segi politik, BUMDes berperan sebagai alat politik untuk mendidik warga desa. “ Sangat penting untuk BUMDes mengetahui posisi bisnisnya berada di level yang mana. Level ini terdiri dari start up (memulai atau merintis), growth (tumbuh), mature (dewasa), take off (landas), dan decline (menua),” kata Wahyudi.

Wahyudi menambahkan, dalam mendirikan usaha diperlukan pengetahuan mengenai cara berwirausaha, menabung, dan investasi. Ketiga skill ini perlu dimiliki oleh pengelola BUMDes. Tidak lupa, BUMDes juga harus memiliki strategi pendampingan meliputi creating value (menumbuhkan), managing value (menguatkan), dan extending value (mengembangkan). Pertama, creating value, melakukan pemetaan potensi dan jenis usaha. Kedua, managing value, melakukan studi kelayakan, perbaikan sistem pencatatan, dan pelaporan keuangan. Ketiga, extending value, melakukan kerjasama dengan pihak ketiga.

Sebelum menentukan usaha apa yang akan dijalankan, BUMDes harus melakukan pemetaan bentang untuk mengukur, menghitung, dan  mengamati segala hal yang ada dan mengelompokannya dalam masing-masing unit usaha BUMDes. Kegiatan itu bertujuan untuk menganalisis potensi dan hambatan pada usaha yang nantinya akan dijalankan. Pemetaan bentang ini terdiri dari bentang alam, bentang sosial, bentang ekonomi, bentang lingkungan, bentang teknologi, bentang pasar, dan bentang SDM.

Bentang alam dilihat dari segi aspek topografi (letak wilayah berupa rupa muka bumi, luas wilayah, dan batas-batas wilayah), aspek biotik (flora dan fauna), dan aspek non biotik. Selanjutnya bentang sosial budaya mencakup peran aktor kelembagaan sosial dan politik lokal, nilai budaya setempat, dan seni tradisi lokal.

Bentang sosial budaya ini dilakukan bertujuan untuk melihat siapa saja yang paling berkepentingan terhadap keberlangsungan usaha yang akan dijalankan BUMDes serta bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh Desa maupun BUMDes. Lalu bentang ekonomi menanyakan perihal bagaimana kondisi ekonomi masyarakat, dampak usaha bagi perekonomian masyarakat sekitar, dan trend pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kemudian bentang lingkungan, contohnya berupa pengelolaan sampah limbah yang ada. Bentang teknologi, yakni cara masyarakat memanfaatkan sumber energi yang tersedia di desa. Bentang pasar, pemetaan yang sangat penting untuk menganalisis siapa saja calon pengguna produk barang atau jasa dari usaha yang hendak dilakukan dan jumlah konsumen yang akan membeli produk dari usaha tersebut.

Pemetaan bentang pasar ini juga dilakukan untuk mengetahui siapa saja yang menjalankan usaha dalam wilayah yang sama serta berapa luas jaringan pasar dari pesaing. Terakhir, bentang SDM, pemetaan ini dilakukan untuk melihat SDM di desa yang mempunyai kompetensi teknis, manajemen, dan rekayasa sosial.

Dalam menentukan ide bisnis, Wahyudi menjelaskan, tiap orang bebas berimajinasi perihal ide bisnis tanpa dibatasi oleh apapun. Ide bisnis ini muncul berdasarkan faktor-faktor seperti opportunity, how to innovate, dan calculated risk thinking. Tidak hanya itu, ketika sudah melahirkan beberapa ide bisnis, perlu diperhatikan pula terkait kriteria bisnis yang baik, yaitu legal, passion, pasar, dan bisnis. Dari ide yang telah memenuhi kriteria tidak boleh langsung dieksekusi secara menyeluruh, tetapi harus dilakukan inovasi terlebih dahulu. Inovasi ini bisa melalui adop (mengadopsi dari bisnis lain), modify (modifikasi, perubahan), put to the other purpose (digunakan untuk fungsi yang lain), eliminate (eliminasi – menghilangkan kesan buruk suatu usaha), dan re-arrange (penataan ulang, bisnisnya berbeda dari bisnis-bisnis sebelumnya).

Setelah pemaparan dari Wahyudi, masuk pada sesi kedua. Pada sesi ini, Tri Wahyu Aji Susilo selaku narasumber memaparkan perihal kertas kerja pemetaan potensi dan penyusunan rencana usaha yang didalamnya menggali informasi mengenai peta desa (sketsa desa), pemetaan bentang, pemilihan jenis usaha, analisis swot, investasi, proyeksi biaya dan pendapatan, dan kelayakan usaha (profit dan BEP/payback period). Peserta ToT dipandu oleh Tim Bumdes.id dalam mengisi kertas kerja pemetaan potensi dan penyusunan rencana usaha. Aji juga memaparkan terkait tata kelola dan manajemen BUMDes yang mencakup pembahasan 5 (lima) kelompok masalah antara lain pasar, bisnis, tata kelola, manajemen, dan keuangan.

Sebelum sesi ToT hari kedua ini berakhir, peserta diberikan pelatihan pengelolaan keuangan BUMDes melalui aplikasi SAAB. Pola pengelolaan keuangan BUMDes ini memiliki langkah-langkah yang harus dilalui, yakni  plan (direncanakan, seperti investasi biaya dan pendapatan), do (dilaksanakan, seperti RBA dan RKAT), check (dilaporkan, melihat laba atau tidak), dan action (dievaluasi – tindaklanjuti). Jadi, pola pengelolaan keuangan ini akan menghasilkan rencana strategis, rencana kegiatan dan anggaran tahunan, penatausahaan pemasukan, penatausahaan pengeluaran, pencatatan dan pelaporan, SPI dan perbaikan berkelanjutan.(ayu resti/timmedia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *