Dr. Aviliani : Tinggalkan Konsep Persaingan Antar-Desa

Dr. Aviliani SE, MSi adalah profesional dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN). Ia juga menjabat sebagai ekonom INDEF. Pada acara Rembug Desa Nasional 2017, Dr. Aviliani didaulat menjadi salah satu pembicara yang akan menyampaikan materi dalam acara Rembug Desa Nasional.

Pada kesempatan kali ini Dr. Avilani membawakan tema Pembamngunan Ekonomi Lokal berbasis pemberdayaan masyarakat. Beliau mengemukakan bahwa Kebijakan Dana Desa bukan hanya untuk profit motive tetapi juga untuk pemberdayaan. Sehingga proyek-proyek yang dilakukan dengan menggunakan Dana Desa tidak

Dr Aviliani mengemukakan bahwa salah satu yang perlu dikembangkan untuk BUMDes adalah membuat BUMDes berbasis kawasan, dan tidak hanya berdiri sendiri-sendiri. Dengan melakukan berkolaborasi dengan desa lain, dapat dibuat produk unggulan berbasis kawasan. Beliau juga mengemukakan bahwa BUMDes perlu bermitra dengan perusahaan yang lebih besar dan berpengalaman. Contohnya, Bateing Sul-sel Buopati yang telah bekerjasama dengan Jepang dalam hal holtikultura, dengan kerjasama ini pendapatan meningkat dari eksport holtikultura. Kerjasama semacam ini tentu saja juga meningkatkan devisa  negara.

Dr. Aviliani mengemukakan bahwa kolaborasi anatar-daerah terjadi jugaatas dasar kebutuhan. Oleh karena itu, BUMADES (Badan Usaha Milik Antar Desa) perlu digenjot, dengan mendorong diilakukannya berkolaborasi dengan desa-desa terdekat. Dengan ini pula, kita perlu mengetahui kelemahan dan kekuatan desa-desa lain, serta meninggalkan konsep persaingan antar desa yang menyebabkan tidak adanya kolaborasi.

Dr. Aviliani mengemukakan beberapa poin yang bisa dijadikan model pemberdayaan Bumdes:

  1. Harus mengetahui peta dan karakter daerah masing-masing
  2. Mengetahui potensi daerah tertentu
  3. Melakukan penguatan kompetensi berbasis potensi. Orang yang tidak mempunyai kompetensi maka orang tersebut akan hilang.
  4. Singkronisasi antar dinas. Antar kementrian perlu nelakukan koordinasi.
  5. Proposal tidak berkesinambungan. Proposal harus berkesinambungan dan sesuai dengan potensi dan ada aspek pemberdayaan masyarakat.
  6. Label menjadi kunci penting. Disertakan SNI dan Ramah Lingkungan
  7. Sasaran produk harus jelas. Kelas menengah meninggalkan beras, perlu mengembangkan beras merah dan hitam.
  8. Pendamping harus sesuai dengan kompetensi yang ada di desa, tidak asal-asalan.
  9. Kurangi distributor agar harga bisa menjadi turun. Pengepul harus mempunyai skill jika masih ingin bertahan.
Facebook Comments

One Reply to “Dr. Aviliani : Tinggalkan Konsep Persaingan Antar-Desa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *