TOT Pendampingan BUMDES Angkatan 4

Pada tanggal 22 – 24 September 2017, BUMDES Id mengadakan Training Of Trainers yang dilaksanakan di ruang tengah Syncore selama dua hari dan satu hari dilaksanakan di Desa Panggungharjo “Kampoeng Mataraman”. Yang dihadiri dari berbagai macam daerah seperti dari Jambi, Nias, NTB, Sumbawa Barat, dan daerah Yogyakarta.

Badan Usaha Milik Desa atau yang sekarang biasa disebut BUM Desa adalah badan usaha yang seluruh atau sebagaian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasala dari kekayaan Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. BUMDES memiliki Paska UU Desa yang terdiri dari azas rekognisi dan azas subdiaritas yang didalamnya terdapat kewenangan, pelaksanaannya dan cakupan kewenangan.

Sumber dana desa yang terdiri dari dana desa APBN, alokasi dana desa (ADD) APBD, dan PADes. Pengalokasian dana desa APBN dan APBD lebih banyak digunakan untuk keperluan infrastruktur desa, tetapi PADes akan tetap ada karena dana yang dari BUMDES akan terus berputar.
Beberapa factor yang menyebabkan suatu desa belum mendirikan BUMDES karena bingung bagaimana atau mau mulai dari mana mendirikan BUMDES, tidak tahu cara dan hukum atau dasar hukum untuk mendirikan BUMDES, tidak punya potensi dalam suatu desa , kesulitan dalam menemukan tenaga kerja atau sumber daya manusia yang mau membantu dan bekerja sama untuk membangun BUMDES, serta adanya trauma akan kegagalan dalam membangun BUMDES.

Dalam proses pendirian BUMDES yang harus dilakukan pertama adalah melakukan sosialisasi pendirian BUMDES antar warga, lalu melakukan pembentukan tim guna persiapan pendirian BUMDES, selanjutnya memetakan potensi suatu desa serta memilih jenis usaha yang berpotensi untuk kemajuan desa, menyusun rancangan perdes, AD/ ART BUMDES, melakukan persiapan pelaksanaan musyawarah desa, dan yang terakhir melakukan pelaksanaan musyawarah desa.

Ada beberapa masalah yang terjadi dari BUMDES yang sudah terbentuk tetapi belum berjalan, yang pertama karena pengelolaan keuangan yang belum transparan terhadap warga desanya, karena dengan pengelolaan keuangan yang transparan akan membuat warga desa semakin percaya dan BUMDES akan berlanjut, yang kedua karena kemampuan manajemennya yang belum memadai, yang ketiga tata kelola BUMDES atau unit-unit usaha yang belum baik, yang keempat model bisnis yang belum tepat dan yang terakhir pasar yang di tuju apakah sudah ada?

Misalnya suatu desa wisata, apa yang bisa dilihat dari desa wisata? Pemandangan yang menarik, apa yang bisa dimakan? Biasanya orang yang habis bermain dari desa wisata tersebut pasti membutuhkan makanan untuk menjaga energinya, apa yang bisa dimainkan? Selain pemandangan indah dan menarik dari desa wisata tersebut maka dilengkapi dengan property yang unik dan yang biasanya dibutuhkan para pengunjung, apa yang bisa dipamerkan? Dari beberapa hal yang sudah disediakan, kebanyakan orang dengan kebiasaanya yang suka dengan publikasi di media social maka akan memamerkan desa wisata tersebut di social media mereka, sehingga akan membantu mengenalkan desa wisata tersebut kepada orang-orang yang belum mengetahuinya.


TOT Pendampingan BUMDES angkatan 4 di RTS dengan Bapak Rudy Suryanto, S.E., M.Acc., Ak.,CA


Bapak Yanni Setiadiningrat menyampaikan materi terkait sharing praktik terbaik BUMDES se Indonesia


Setup sistem aplikasi akuntansi dan penganggaran BUMDES


Bapak Wahyudi Anggoro Hadi menyampaikan materi terkait Tata Kelola Desa dan BUMDES : Membangun Kemandirian Desa Lewat BUMDES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *