Jelajah Desa Kampoeng Mataraman ” Kembali ke Desa”

Desa Panggungharjo merupakan salah satu desa yang ingin mengembangkan desanya untuk menjadi desa wisata yang akan dikunjungi oleh wisatawan. Desa Panggungharjo saat ini telah mendirikan Kampoeng Mataraman sebagai salah satu destinasi tempat wisata.

Pada hari Kamis 15 juni 2017 Seluruh Superteam PT Syncore Indonesia berkunjungan ke Desa Panggungharjo untuk melakukan jelajah desa wisata ke Kampoeng Mataraman dan buka bersama . Namun sebelum acara itu dimulai kita semua disuguhkan dengan permainan tradisional, pemandangan alam yang asri dan indah serta udara yang sejuk.

Banyak permainan tradisional terbuat dari bambu yang berada di Kampoeng Mataraman seperti permainan gasing, enggrang, kincir angin, batok kelapa. Salah satu permainan yang saya mainkan adalah permainan gasing yaitu permainan terbuat dari bambu yang di lilitkan dengan tali lalu di tarik pada bagian tali tersebut.

Kampoeng Mataraman ini terletak di kawasan Bantul kurang lebih 20 km dari kota Yogyakarta. Kampoeng Mataraman ini tidak hanya dijadikan tempat untuk bersenang-senang namun juga tempat wisata yang memberikan pelajaran tentang cara pemberdayakan budaya jawa yang hampir punah oleh jaman modern sekarang ini. Para pengelola tempat ini menggunakan baju adat seperti lurik, jarik dan sorjan. Pakaian tersebut merupakan salah khas dari para leluhur agar tetap di budayakan. Ada juga yang memakai baju prajurit mataraman yang identik pada jaman Mataraman dahulu.

Kampoeng Mataraman ini juga ngajarkan kita untuk beredukasi tentang bagaimana cara untuk membajak sawah, menanam padi, memetik sayuran dan masih banyak lagi. Kami disuruh mempraktekan membajak sawah dengan menggunakan binatang kerbau, dan memetik sayuran genjer untuk dimasak dan di hidangkan saat berbuka puasa.

Menjelang berbuka puasa kita di kumpulkan di Pendopo Kampoeng Mataraman untuk mendengarkan tausiyah dari ustadz Pudjiantoro yang membahas tentang kembali ke desa, beliau merindukan suasana desa yang sudah lama ditinggalkan karena beliau sangat sibuk dengan kegiatannya dan tinggal di pondok, sehingga beliau jarang untuk pulang ke desa. Di pendopo itu kita juga melakukan sholat magrib bersama dengan superteamndan para pengelola Kampoeng Mataraman.

Waktu berbuka puasa kita di hidangkan dengan berbagai jenis makanan  dan minuman khas desa yang jarang di temui di kota seperti coro, apem, mie lethek, sayur lodeh kluwih, sayur genjer, es dawet, dan air kendi. Pada saat membuat kue apem ibu-ibu itu sambil mendengankan lagu-lagu tradisional dan nembang jawa untuk melestarikan lagu jawa.

Semua kegiatan yang dilakukan di Kampoeng Mataram serta cita rasa makanan yang dihidangkan membuat kita untuk ingin kembali ke jaman dahulu atapun kembali ke desa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *