Bumdes.id – Membicarakan BUMDes, yang terlintas dipikiran kita adalah belum optimalnya pengelolaannya. Berbagai macam permasalahan terus-menerus muncul dan menerpa BUMDes seperti bentuk kelembagaan yang multitafsir, pola keuangan yang belum ideal, pemetaan potensi usaha yang tidak tepat sasaran, ataupun kesalahan dalam membentuk struktur pengurus.  Akibatnya BUMDes masih dipandang bukan sebagai solusi untuk mewujudkan visi besar yaitu kemandirian desa. Efek dominonya tentu saja ke pemerintah desa. Dukungan moriil maupun materiil dari pemdes tidak maksimal. Mayoritas pemdes masih belum berani `berinvestasi` ke BUMDes dalam bentuk penyertaan modal.

Perlu adanya penyegaran perspektif untuk melawan pemikiran negatif seperti ini. BUMDes itu banyak masalah tapi bukan berarti membuat banyak pihak  menyepelekan kehadirannya. Adanya permasalahan seharusnya dipandang sebagai hal yang positif. Karena dengan adanya permasalahan berarti ada ruang untuk merumuskan solusi. Solusi yang konkrit bisa dirumuskan dari permasalahan yang kompleks. Permasalahan yang terjadi di BUMDes pun sepatutnya dipandang sebagai upaya untuk membuka ruang merumuskan solusi. Yang terpenting adalah semua pihak bisa satu pandangan, bahwa BUMDes harus dioptimalkan untuk mewujudkan semangat kemandirian desa.

Berangkat dari hal tersebut, Sekolah Manajemen Bumdes (SMB) menyusun kurikulum pelatihan berdasarkan permasalahan yang kerap terjadi dalam pengelolaan BUMDes.  Dikombinasikan dengan rumus sinergitas ABCFGM (Akademisi, Bussiness/Bisnis, Community/Komunitas, Financial Institution, Government, Media), kami memandang bahwa BUMDes harus dibantu oleh berbagai sektor untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut. Sinergitas yang dimaksud bukan `untuk` menggurui akan tetapi sebagai wujud sharing knowledge lintas sektor. Karena kami yakin bahwa yang paling tahu masalah di desa adalah masyarakat desa itu sendiri. Konsep sinergitas disini didorong agar semua pihak mau berkontribusi dan tetapi menjadikan desa sebagai aktor utamanya.

Berbagai materi disusun untuk menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Materi awal yang diberikan adalah memahami filosofi BUMDes. Karena sifatnya yang sangat mendasar, peserta diajak untuk merefleksikan kembali pemaknaan terhadap BUMDes. Hal ini juga bertujuan untuk menghindari ambiguitas kelembagaan BUMDes yang kerap terjadi.  Selanjutnya adalah materi pemetaan bentang. Materi ini disusun untuk menjawab permasalahan yang selama ini terjadi yaitu kesalahan dalam merumuskan unit usaha yang tepat sasaran. Banyak BUMDes yang berhenti di tengah jalan karena kesalahan dalam memilih unit usaha, biasanya karena `latah` mengikuti desa tetangga. Padahal setiap desa memiliki potensi yang berbeda, sehingga `kelatahan` ini perlu dihindari. Pemetaan Bentang adalah tools/alat untuk memetakan semua potensi dan permasalahan yang ada di desa. Hasil dari pemetaan ini kemudian dianalisis dan dijadikan dasar menentukan unit usaha. outputnya adalah peserta dapat menyusun dokumen studi kelayakan usaha.

Setelah usaha sudah diberikan cap `layak`, maka materi selanjutnya adalah memahami siklus pengelolaan BUMDes. Pengelolaan yang baik tentu saja memenuhi semua tahapan yaitu perencanaan, penyusunan, implementasi, monitoring, dan evaluasi. Semua tahapan tersebut dilakukan dengan menjadikan kegiatan dan anggaran sebagai objek analisis utamanya. Ketika siklus pengelolaan sudah dipahami, maka akan memudahkan BUMDes untuk menentukan struktur organisasinya. Sebagaimana kita ketahui struktur organisasi yang baik disesuaikan dengan kebutuhan. Kebutuhan tersebut bisa dilihat ketika siklus pengelolaan bisa dirumuskan dengan baik.

Ketika peserta sudah paham akan filosofi BUMDes, tahu cara memetakan potensi, dan mengerti akan siklus pengelolaan usaha, maka masalah-masalah diawal pendirian BUMDes dapat diminimalisir. Akan tetapi, permasalahan selanjutnya adalah kebingungan akan pola keuangannya. Oleh karenanya, materi selanjutnya yang diberikan adalah pengelolaan keuangan BUMDes. SMB dan Bumdes.id bekerjasama untuk membangun aplikasi terkait dengan keuangan BUMDes. Aplikasi ini bertujuan untuk memudahkan pengelola BUMDes untuk melaporkan segala jenis transaksi keuangan dan menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar.

Semua materi tersebut ditambah dengan sharing praktik terbaik dari BUMDes yang telah sukses mengelola usahanya serta kunjungan lapangan ke BUMDes berprestasi. Karena menurut kami, materi-materi yang telah disampaikan dapat lebih `diresapi` oleh peserta apabila mereka melihat dan mendengar langsung cerita keberhasilan tentang BUMDes.

Sejauh ini pelatihan sudah diselenggarakan sebanyak 11 angkatan dengan alumni lebih dari 200 orang. Berbagai latar belakang profesi mengikuti pelatihan seperti dari akademisi, Pendamping BUMDes, Pengelola BUMDes, Pemerintah Desa dan NGO/komunitas yang fokus terhadap BUMDes. Beberapa daerah yang pernah mengikuti pelatihan ini seperti Kabupaten Berau, Lampung Selatan, Mandailing Natal dan Halmahera Utara. dari sektor akademisi, sudah banyak universitas yang mengirimkan para dosennya mengikuti pelatihan in, seperti Universitas Pancasila, Universitas Negeri Lampung, Universitas Hasanuddin, STIE Amkop, dan masih banyak lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *