Berkah Bengawan Solo : Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan petani di desa (part 1)

 

Bumdes.id – Pada kesempatan kali ini, tim Bumdes.id berkesempatan untuk mengunjungi beberapa desa yang berada di Kabupaten Bojonegoro,  dan Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Kedua kabupaten tersebut merupakan daerah yang berada didekat aliran sungai bengawan solo. Salah satu tujuan dari kunjungan ini adalah melihat bagaimana pengelolaan irigasi tersier yang bersumber dari sungai bengawan solo.

Mungkin masih banyak masyarakat yang belum mengetahui seperti apa itu irigasi tersier, seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan, serta potensi usaha yang bisa dilakukan untuk masyarakat desa. Padahal jika dipelajari lebih jauh, usaha irigasi tersier bisa memberi banyak keuntungan khususnya bagi para petani di desa. Apalagi ketika usaha irigasi tersier ini langsung dikelola oleh desa, tentu saja keuntungan bisa langsung dirasakan oleh masyarakat maupun pemerintah desa.

Pada hari pertama, tim Bumdes.id berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Djupari. Banyak cerita dan pengalaman yang beliau ceritakan terkait dengan kebermanfaatan dari irigasi untuk pertanian. “Bojonegoro ini beruntung mendapat air dari bengawan solo”,jelasnya.  Menurutnya bengawan solo telah memberikan banyak `rejeki` kepada desa-desa di bojonegoro. “manfaatnya pasti banyak, asal kita bisa kelola dengan baik untuk sektor irigasi ini pasti bisa”,Tambahnya.

Bojonegoro memang menjadi salah satu daerah yang mendapat berkah dari keberadaan bengawan solo. Beberapa desa disana, sudah mampu memanfaatkan akses air bengawan solo untuk keperluan irigasi di lahan pertanian. Tentu saja hal tersebut sangat membantu petani, terutama dalam hal peningkatan produktifitas panen.

Berbicara mengenai pengelolaan usaha irigasi tersier di Bojonegoro memang cukup menarik. Setidaknya kami menemui sekitar 4 model pengelolaan usaha irigasi tersier. Model pertama yaitu usaha irigasi dikelola oleh pengusaha dengan bekerjasama dengan desa. Pengusaha nantinya akan berinvestasi untuk membangun infrastruktur, sarana dan prasarana untuk keperluan irigasi. Nantinya pihak pengusaha dan desa melakukan kerjasama pembagian keuntungan.

Pemerintah desa (Pemdes) biasanya akan menyediakan lahan untuk membangun infrastruktur tersebut. Model pengelolaan seperti ini biasanya menitikberatkan pada perjanjian kerjasama antara pengusaha dan pemdes. Pemdes harus benar-benar jeli menjamin pembagian keuntungan juga sesuai yang masuk ke desa. Jangan sampai pengusaha lah yang dominan mengendalikan usaha tersebut. Apalagi yang dikelola ini adalah air, yang tidak boleh diprivatisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *