“Desa kami dulu adalah desa yang miskin. Zaman orde baru desa kami masuk IDT (Inpres Desa Tertinggal). Anak-anak muda tidak ada yang betah tinggal di desa. Setelah lulus sekolah mereka langsung merantau kekota. Mereka merasa desa yang kering dan tandus tidak menawarkan harapan di masa depan ” Pak Ton Martono, Direktur Bumdes Karangrejek membuka cerita dengan getir.

Kondisi diatas adalah gambaran desa Karangrejek kuranglebih 15 tahun yang lalu. Sekarang Karangrejek sudah banyak berubah. Lewat Bumdes, Desa Karangrejek berhasil merubah desa yang tandus dan miskin menjadi desa yang makmur dan membanggakan.

Pak Ton Martono mengisahkan kisah perjuangan bagaimana merintis usaha air bersih yang dikelola oleh Bumdes dari nol. “Kami bertekad bahwa kami harus membuat perubahan. Tanpa air desa kami tidak akan pernah berkembang. Kami membuat surat dan menghadap Rektor UGM. Kami memohon desa kami jadi tempat KKN mahasiswa UGM, khususnya dari mahasiswa geologi. Permintaan tersebut dipenuhi akhirnya oleh UGM dan dimulailah pemetaan sumber air oleh mahasiswa KKN dengan pinjaman alat dari UGM”.

Setelah sumber air dapat dipetakan dan titik gravitasi tertinggi dapat diidentifikasi maka muncul masalah kedua, yaitu bagaimana mengebor sumur dengan kedalaman 150 m di bawah tanah. Proses pengeboran tersebut memerlukan alat berat dan tenaga ahli yang setelah dihitung total membutuhkan dana Rp800 juta.

Apa daya uang tidak cukup. Uang ditangan hanya 10 juta rupiah. Pengurus melakukan langkah nekad, semua sertifikat tanah pribadi milik pengurus dikumpulkan. Maju ke Bank, mengajukan kredit. Tidak diterima, tidak dipercaya. Tidak putus asa, coba berbagai sumber. Akhirnya ada satu lembaga keuangan yang bersedia memberikan pinjama, meskipun dengan bunga yang sangat tinggi. Akhirnya uang itu pun didapat. Pengeboran dilakukan dibantu oleh pihak PU dan tenaga ahli dari PDAM. Hasil sangat bagus, air muncrat kemana-mana. Sangat jernih dan segar. Masalah muncul lagi, saking fokus pada upaya pengeboran, mereka lupa membuat reservoir penampung air. Air meluber kemana-mana, hati bahagia, namun juga kecut karena uang sudah habis. Sertifikat semua sudah di jaminkan. Jalan mana yang akan ditempuh?

Singkat cerita satu persatu masalah datang dan bisa diselesaikan dengan baik dengan kekompakan Pemerintah Desa, Pengurus Bumdes, dan masyarakat. Mereka memiliki mimpi yang sama, bahwa nasib desa harus dirubah, dan mereka sendiri yang akan melakukannya. Saat ini pertahun usaha air bersih tersebut sudah tembus omzet Rp6 milyar per tahun. Bumdes Karangrejek sudah punya cukup dana untuk melakukan ekspansi dan memberikan kemanfaat sosial bagi warga. Bumdes Karangrejek baru saja menyelesaikan pembangunan 48 ruko di rest area arah pantai Baron, menelan dana Rp1.6 milyar, semua dibiayai oleh Bumdes. Bumdes juga telah membelikan Mobil Ambulance yang bisa dipakai warga gratis. Sudah puluhan siswa pandai yang kurang mampu diberi beasiswa untuk dapat melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Sumur bor baru dengan kedalaman 200 m dan infrastukturnya juga baru dibangun. Total dana yang diperlukan bisa mencapai 1.8 Milyar. Pembangunan tersebut sepenuhnya dibiayai sendiri oleh Bumdes. Fasilitas tersebut selanjutnya akan disalurkan ke warga di 5 desa sekitar. Berdasarkan perkembangan ini tidak butuh waktu lama untuk Bumdes Karangrejek pendapatannya akan tembus Rp12 milyar. Dari desa yang paling miskin, menjadi desa yang kaya, semua serba mungkin berkat dana desa dan Bumdes.

“Impian kami berikutnya adalah menjadikan Karangrejek sebagai Desapolitan. Desa sebagai pusat ekonomi di wilayah kami. Sehingga anak-anak muda bisa kembali kedesa kami. Tidak perlu merantau ke tempat yang jauh hanya untuk jadi buruh, karena desa kami dapat memberikan pekerjaan yang layak untuk menjamin masa depan mereka” Pak Ton Martono menerawang jauh. Perjuangan penuh kesulitan diawal merintis Bumdes, saat ini telah berbuah manis. “Mengelola Bumdes itu mudah Pak Rudy, kuncinya hanya satu, pengurusnya tidak boleh putus asa”.

#BumdesSukses #DesaSejahtera
#BisnisSosial
#TerusBergerak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *