Bumdes Jaya Tirta Gedongarum Bojonegoro : Menjaga Ketahanan Pangan Nasional lewat Usaha Irigasi Air Tersier !

#BumdesNote #02

Selama bangsa Indonesia masih menggantungkan pada beras sebagai makanan pokok, maka ketersediaan beras selalu jadi isu nasional. Menurut kajian Bank Indonesia, tantangan pencapaian Swasembada Pangan di tahun 2020 adalah konversi lahan pertanian dan masalah irigasi. Menurut data dari Kementerian PUPR saat ini hanya 45 % sistem irigasi yang berfungsi dengan baik.

Sejak jaman Belanda, masalah irigasi sudah menjadi perhatian serius. Tidak mungkin bisa dicapai swasembada pangan tanpa pengelolaan irigasi yang baik. Menilik permasalahan yang sangat serius ini mengantarkan kami dalam perjalanan ke Bojonegoro dan Tuban Jawa Timur lewat Kemitraan dengan TIRTA (www.aip-rural.or.id). Bojonegoro dan Tuban merupakan lumbung padi di Jawa Timur. Beberapa area persawahan di Bojonegoro dan Jawa Timur adalah area kering. Tanahnya pecah-pecah. Para petani di daerah tersebut sebelumnya hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun. Tetapi sejak revitalisasi Saluran Irigasi Tersier dengan menyedot air dari Bengawan Solo dengan pompa, dan dialirkan ke sawah-sawah, maka area-area pertanian tersebut dapat panen dua kali dalam setahun. Sebagian besar usaha irigasi Tersier tersebut dikelolah oleh Himpunan Petani Pengguna Air (HIPPA) atau pengusaha swasta. Kajian-kajian awal yang dilakukan oleh TIRTA menunjukkan bahwa pengelolaan irigasi tersier saat ini masih dilakukan dengan cara yang tidak efisien, kurang profesional dan terkendala oleh modal yang cekak. 

 

Menjawab tantangan jaman tersebut, Bumdes hadir. Baik di Bojonegoro dan Tuban, telah bermunculan Bumdes-bumdes yang terlibat dalam usaha irigasi tersier, dengan prestasinya sangat membanggakan. Salah satunya adalah Bumdes Tirta Jaya yang ada di desa Gedongarum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro. Bumdes di Gedongarum telah berdiri sejak tahun 2004 jauh sebelum UU Desa diundangnkan. ,Saat ini telah mengairi areal seluas lebih dari 500 ha meliputi desa Gedongarum dan desa Temu. Pendapatan per tahun telah mencapai Rp2.8 milyar, memperkerjakan lebih dari 40 orang dan mampu memberikan sumbangan ke PADes setiap tahun lebih dari 300 juta. Mari kita simak perjalanannya. 

“Awalnya usaha irigasi persawahan ini dilakukan oleh pengusaha dari Surabaya. Tetapi ya namanya pengusaha, yang dipikirkan cuma untung. Sesuai prinsip mereka, bagaimana pendapatan sebesar-besarnya, dan biaya sekecil-kecilnya. Akibatnya para petani sering terlambat mendapatkan air dan pengairan kurang maksimal” Bapak Suratno, Sekretaris Desa Gedongarum, yang menjadi saksi sejarah lahir dan berkembangnya Bumdes mengisahkan. “Waktu itu kami berpikir, sudah selayaknya usaha ini dikelola oleh desa. Langkah pertama kami adalah mengundang para tokoh masyarakat dan melakukan rembug warga. Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa perlu dilakukan proses agar usaha pengairan tersebut bisa dialihkan dari pihak swasta untuk dapat dikelola desa”.

Bapak Suratno, pusing tujuh keliling. Lembaga apa yang sebaiknya diberi mandat untuk mengelola usaha irigasi air tersebut. Setelah melakukan konsultasi dengan pihak Kabupaten dan Propinsi, maka digagaslah sebuah kelembagaan dengan nama Lembaga Pengelola Usaha Desa Tirta Jaya. Pada tahun 2004, konsep Bumdes belum populer, bahkan Pedoman Bumdes baru lahir di Permendagri No 39/2010. Cikal Bakal Bumdes Tirta Jaya Gedongarum lahir melampaui jamannya, berdasarkan analisa kebutuhan dan kearifan lokal. “Ini AD/ART kita pertama kali Pak Rudy”, Bapak Suratno menunjukkan setumpuk dokumen yang diarsip dengan sangat rapi sebagai saksi sejarah perjalanan Bumdes dari awal sampai saat ini. Bapak Suratno memang pembelajar sejati, profesi beliau dulunya adalah seorang guru gambar. Beliau memiliki citarasa seni yang tinggi, ahli rancang bangun, termasuk membuat disain kelembagaan Bumdes, yang nantinya akan jadi rujukan banyak pihak. 

Lewat beberapa waktu kami berdiskusi di Balai Desa Gedongarum yang sangat asri dan ditata dengan baik, datang rombongan Pengurus Bumdes yang saat ini dipimpin oleh bapak Sunarko. Beliau masih muda dan penuh dengan visi. Bapak Sunarko rela meninggalkan karir sebagai salah satu manajer di Bank Swasta nasional untuk kembali membangun desa. Keberhasilan Bumdes Gedongarum mengelola Usaha Irigasi Tersier tidak lepas dari perjuangan dan pengorbanan para pendiri dan tokoh masyarakat. Ketika awal mereka mengambil alih usaha irigasi dari pengusaha swasta, mereka harus membayar 180 juta. Karena desa tidak memiliki dana, maka warga sepakat untuk melakukan iuran. Pada tahun 2003, meskipun sudah mengerahkan berbagai upaya namun baru terkumpul Rp90 juta, sehingga upaya pengalihan usaha tersebut baru bisa berjalan sepenuhnya di tahun 2004. Usaha pengairan ini juga mengalami pasang surut. Beberapa kali usaha ini tidak menghasilkan uang sepeserpun karena gagal panen, padahal setiap bulan mereka harus menyedikan uang tidak kurang dari Rp80 juta untuk membayar solar dan listrik. Seringkali ketika uang tidak ada sama sekali, mereka harus meminjam ke lembaga keuangan dengan bunga yang sangat tinggi, karena waktu itu tidak ada Bank yang percaya dengan mereka. Namun perjuangan dan pengorbanan itu semua saat ini telah berbuah manis. 

“Ini adalah SOP yang kami susun untuk pedoman pengelolaan keuangan di Bumdes. Meskipun masih sederhana kami mencoba untuk profesional dan transparan. Semua pemasukan dan pengeluaran dicatat dan dilaporkan. Setiap komplain dari warga juga kami tangani segera” Bapak Sunarko, kemudian memperkenalkan tim manajemen Bumdes satu persatu, dan mayoritas masih muda dan kompeten dalam tugasnya masing-masing. 

Setelah berdiskusi cukup lama, tiba waktunya kami untuk studi lapangan melihat stasiun pompa dan saluran air. Pada perjalanan kami keluar ke Balai Desa, kami melihat taman desa yang ditata sangat indah. Kami terus terang kagum, karena taman tersebut layaknya taman kota yang ada di Kabupaten. “Pak Rudy selfi dulu Pak…” Seolah tahu ketertarikan saya ketika melihat obyek yang bagus. “Taman desa ini saya yang merancang sendiri pak” salah satu pengurus Bumdes dengan bangga menerangkan.”Tanaman dan bunga sebagian besar di sumbang oleh warga, meskipun ada beberapa yang kami beli. Setiap sore, apalagi di bulan Ramadhan taman ini ramai pak untuk orang menunggu buka sambil berburu jajanan. Semua biaya pembangunan taman ini diambil dari keuntungan Bumdes”. 

Dari tempat parkir mobil di depan Balai Desa, nampak Joglo yang baru dibangun. Joglo tersebut dikebut supaya dapat dipakai untuk halal bihalal lebaran tahun ini. Joglo megah tersebut dibiayai sepenuhnya dari PADes dari keuntungan Bumdes mengelola Usaha Irigasi Tersier. Saya jadi teringat apa yang disampaikan Bp Suratno “Usaha Bumdes ini adalah usaha bisnis sekaligus misi sosial. Tujuan kami tidak semata-mata mencari untung, tetapi bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani. Setelah usaha irigasi tersier ini dikelola oleh Bumdes, maka biaya pengairan yang awalnya sebesar 1/6 dari hasil panen, kami turunkan menjadi 1/8 atau 12.5% dari hasil panen. Biaya tersebut adalah yang paling murah dibandingkan tempat lain. Kami juga membayar terlebih dahulu asuransi pertanian Jasindo untuk area-area yang rawan banjir. Hal itu terbukti sangat menguntungkan kami, karena tahun lalu ada banjir parah yang melanda desa kami. Total areal 300 ha gagal panen. Tetapi Alhamdulillah berkat asuransi pertanian, masing-masing areal diganti 6 juta. Sehingga kami mendapatkan total 1.8 milyar untuk meringankan beban kerugian petani akibat banjir”. 

Pada perjalanan kami menuju pinggiran Bengawan Solo untuk melihat Pompa Air, kami melihat sendiri jalan-jalan desa sudah tertata dengan baik. Kang Nyoto, Bupati Bojonegor, memiliki kebijakan bahwa semua jalan desa harus menggunakan Batako yang dibuat oleh warga desa itu sendiri. Cara yang sangat sederhana tetapi mampu membangkitkan Bojonegoro, daerah yang sebenarnya kaya raya namun selama ini tertinggal, saat ini sudah dikenal sebagai daerah yang maju. Gedongarum membuktikan bahwa desa bisa makmur dan sejahtera dari pertanian. Ditengah banyaknya arus urbanisasi, kami melihat sendiri banyak anak muda di Gedongarum yang bangga menjadi petani. Mereka mampu membangun rumah-rumah yang bagus, membiayai pendidikan anaknya, karena hasil pertanian yang melimpah, salah satunya karena mereka tidak pernah kekurangan air. Desa ini telah dua kali dikunjungi Menteri. Menteri terakhir yang datang adalah Menteri Pertanian saat melakukan panen raya. Karena terkenal sebagai desa yang makmur, desa ini justru sering terlewat mendapatkan bantuan. Tetapi mereka tidak putus asa, mereka percaya dengan gotong royong dan swadaya warga mereka mampu mewujudkan mimpi-mimpinya. Saat ini dengan adanya Bumdes, harapan mereka sepertinya lebih dekat lagi untuk terwujud.

“Setiap lebaran, kami selalu memberikan santunan untuk semua guru ngaji TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Kami juga ada bingkisan sekedar sarung dan sumbangan sosial kepada orang-orang yang tidak mampu, agar mereka bisa merayakan Iedul Fitri dengan bahagia”. Perjalanan kami di Bojonegoro kali ini meninggalkan bekas yang mendalam. Kami menyaksikan benih-benih kebangkitan ekonomi desa, tidak hanya di Jogja, Jawa Tengah, Bali dan Sumatera Barat, tetapi mulai merata di berbagai tempat di Indonesia. Memang benar, masa depan Indonesia ada di desa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *