Bagaimana Cara Meningkatkan Akses Pasar BUMDes?

Alasan BUMDes Minim Akses Pasar

Salah satu kendala yang sering dihadapi oleh pengelola BUMDes adalah jangkauan pemasaran produk. Wilayah pedesaan umumnya belum punya infrastruktur dan SDM mumpuni untuk mendukung jangkauan pemasaran. Kedua faktor tersebut merupakan masalah yang acap kali dihadapi BUMDes. Membangun infrastruktur yang baik dan peningkatan kapasitas SDM adalah tugas pemerintah. Sulit bagi BUMDes menyentuhnya

Hal tersebut kemudian dijadikan “alasan” para pengelola BUMDes jika akses pasar tidak berkembang. Jangkauan pemasaran produk BUMDes sebagian besar hanya berputar di wilayah desa, bahkan parahnya jika warga pun tidak menggunakan produk BUMDes-nya.

BUMDes didorong menghasilkan produk ikonik baik itu jasa maupun barang. Sebagai sebuah lembaga bentukan desa, BUMDes harus mengembangkan usaha dan perekonomian masyarakat desa. Dari kegiatan tersebutlah diharapkan BUMDes mampu menemukan dan mengembangkan produk unggulan desa. Tentu saja kita semua sepakat, bahwa produk yang baik tidak hanya dinikmati oleh lingkungannya. Orang lain perlu mencobanya. Setidaknya untuk mendapat testimoni dari konsumen sebagai justifikasi bahwa produk mereka benar-benar unggulan.

 

Tips membuka akses pasar

Menjadi ironis saat BUMDes telah mampu membuat produk unggulan namun kemudian terkendala memasarkan produknya. Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk membuka akses pasar bagi BUMDes.

 

  1. Bangunlah Outlet Tempat Memamerkan dan Menjual Produk

Membangun pusat pemasaran berupa outlet khusus untuk produk-produk asli desa. Cara ini bisa diawali dengan inisiasi dari pemerintah desa ataupun pengelola BUMDes dengan menyewa atau membangun toko sederhana baik itu di desa maupun luar desa.

Secara tidak langsung BUMDes melakukan branding terhadap produknya diwilayah sekitar toko tersebut berdiri. Akan tetapi strategi ini membutuhkan modal yang cukup besar. BUMDes harus berani berinvestasi dalam hal ini. Perencanaan dan perhitungannya harus benar-benar matang. Strategi seperti ini sebenarnya sudah sangat banyak dilakukan oleh BUMDes, akan tetapi perencanaan yang kurang ditambah keinginan untuk cepat terlihat eksistensi usahanya menjadikan banyak yang tidak optimal

 

  1. Afirmasi Pemerintah Menghubungkan BUMDes dan Swasta

Pemerintah pusat atau daerah bisa “memaksa” pasar-pasar modern ataupun pihak swasta untuk turut serta menampung produk-produk dari desa. Tentu saja ini adalah dengan menerbitkan regulasi yang mengatur kerjasama antara BUMDes dan pihak swasta.

Ketika hal ini terlaksana, tentu saja pemasaran produk BUMDes dapat menjagkau wilayah yang lebih luas. Hal positif lainnya adalah produk-produk yang dihasilkan oleh BUMDes menjadi lebih kompetitif. Hal ini dikarenakan mereka akan mengikuti standar yang diterapkan oleh pihak swasta.
bagi pengelola BUMDes cara ini mungkin akan terdengar sulit, karena terlebih dahulu harus melobi pemerintah pusat. Sebenarnya, hal ini bisa disiasati dengan menjalin kerjasama dengan pihak swasta untuk menampung produk-produk BUMDes

 

  1. Memanfaatkan Teknologi

Pemanfaatan teknologi dalam bidang perdagangan (e-commerce) sangat perlu hari ini. Saat ini pemerintah pusat melalui Kemendesa mulai untuk fokus optimalisasi pemasaran produk desa melalui e-commerce. Kemendesa menuturkan bahwa sebagai sebuah ekonomi baru di tingkat desa yang sedang tumbuh, pemerintah ingin mengembangkan usaha, pengelolaan manajemen dalam hal ini pemasaran.

Pada tanggal 8 Mei 2018, bertempat di halaman Kantor Kemendesa diselenggarakan Expo BUMDes dan Bazar UMKM. Kegiatan ini dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama antara Kemendesa dan pihak swasta dan BUMN. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dilakukan oleh Kemendesa, BRI, Blanja.com, dan RegoPantes.com.

Nantinya BUMDes akan digiring untuk memanfaatkan situs-situs e-commerce melakukan pemasaran produknya. Tentu saja ini membawa angin segar bagi para pengelola BUMDes untuk lebih giat memasarkan produknya di tingkat nasional.

Akan tetapi perlu diingat, perluasan distribusi pasar harus diikuti perbaikan secara terus menerus terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Target konsumennya bukan lagi hanya masyarakat di desa sendiri ataupun desa tetangga. Kompetisi produk akan menjadi tantangan bagi pengelola BUMDes agar nantinya dapat bersaing dengan produk-produk swasta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *