Tanggapan Mereka, Peserta TOT Pendampingan dan Pelatihan BUMDes Angakatan ke-8 Bersama Bumdes.id

“Menurut Robert Chambers, kalau kamu datang di desa JANGAN jadi orang kota yang sok ngasih tau ini itu, mentalitasnya diubah, kita justru belajar bersama seharusnya disana.”

Bumdes.id Training on Trainers, Pendampingan dan Pelatihan Badan Usaha Milik Desa (TOT BUMDes) sudah berjalan untuk yang ke-8 kalinya. Bagian dari komitmen Bumdes.id selaku forum dan lembaga yang berusaha menumbuhkan, menguatkan dan mengembangkan BUMDes di Indonesia. TOT BUMDes angakatan ke-8 telah rampung dihelat oleh Bumdes.id pada Jumat, (20/4).

TOT Pendampingan BUMDes angakatan ke-8 digelar selama tiga hari (18-20 April), dengan menghadirkan praktisi dan penggerak BUMDes terbaik nasional. Sebagai narasumber sekaligus moderator  adalah Rudy Suryanto, SE., M.Acc., Ak., CA., selaku Master Trainer BUMDes Indonesia. Sedangkan dari praktisi, Bumdes.id menghadirkan Wahyudi Anggoro Hadi, Lurah Desa Panggungharjo (beserta seluruh jajarannya) dan Yani Setyadiningrat, Carik Desa Ponggok.

Baca juga: Apa Desa Wajib Mendirikan BUMDes?

Sebanyak 119 orang lulusan TOT BUMDes dari angkatan pertama sampai kedelapan sudah menyebar diberbagai kota di Indonesia. Mereka tidak sekedar belajar, tetapi dirancang untuk menjadi agen perubahan bagi pengembangan BUMDes dimanapun berada.

Salah satu peserta yang hadir pada TOT 8 Bumdes kemarin, Abdul Karim, S.E., M.M mendapatkan insight baru tentang pandangannya terhadap Bumdes.id, “Saya dengar pemaparan dari pak Lurah Wahyudi, bisa jadi desa-desa kurang berkembang itu karena mereka kurang piknik, kurang membuka wawasan dengan desa lainnya. Padahal dari segi sumber daya alam, desa-desa di wilayah kami itu memiliki sumber daya alam yang lebih baik dari Panggungharjo,” katanya.

Baca juga: Sinergi Kemendes PDTT Bersama Forum Perguruan Tinggi, Lesatkan Pembangunan Desa

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMKOP tersebut menuju Jogja bersama tiga orang lain dari latar belakang profesi yang sama. “Kami bersama teman-teman mengikuti pelatihan TOT Pendampingan BUMDes ini karena sesuai dengan bidang yang sedang kami jalankan, yakni program KKN Tematik,” lanjutnya.

STIE AMKOP memang sudah bergabung kedalam Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides), bersama beberapa perguruan tinggi lainnya yang bekerjasama dengan Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Dalam hal ini, Karim kembali melanjutkan maksud ia mengikuti TOT Pendampingan Bumdes ini sebagai bekal pada program kerjanya, “Kita mengadakan program untuk mahasiswa melakukan KKN Tematik ke desa-desa di Sulawesi Selatan (Sulsel) salah satu tema kegiatannya untuk mendirikan BUMDes atau menjalankannya,” katanya. Sulsel menjadi pioneer dalam pengembangan BUMDes melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dijalankan oleh para mahasiswa.

Ahmad Mughny, S.T., MEngMgt, peserta asal kota Madura juga membagikan hal baru yang ia dapat dalam TOT Pendampingan BUMDes ke-8 ini, “Jadi kalau dalam Musyawarah Desa (Musdes) itu jangan terlalu spaneng suasananya, seperti apa yang disampaikan oleh Panji Kusuma (pengelola BUMDes Panggunglestari)  karena biar diskusinya bisa mengalir. Kalau di kritik tidak panas dan kalau mengkritik juga tidak sungkan demi kemajuan bersama, banyak masalah non teknis banyak ditemui di desa,” ungkapnya.

Baca juga: Peluang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Menyongsong Program 275 Juta Wisnus 17 Juta Wisman di Tahun 2018

“Di daerah kami sudah banyak BUMDes, tapi banyak yang hanya papan nama aja,” tutur dosen Teknik Industri Universitas Trunujoyo kepada Syncore Media. Ia bercerita bagaimana BUMDes adalah solusi tepat untuk membangun desa di zaman sekarang. Sebagai referensi belajar BUMDes ia menyarankan kepada sesama peserta TOT Bumdes ke-8 ini untuk membaca buku karya Robert Chamber “Pembangunan Desa Mulai dari Belakang,” dalam sesi cofee break di Syncore Building.

“Ternyata apa yang disampaikan pada TOT Bumdes ini isinya sesuai dengan Buku yang saya baca, bagus,” pungkasnya kepada Syncore Media, sebelum mengikuti sesi terakhir TOT ke-8 sore itu.

*Artikel ini pertamakali di publish pada Syncoreconsulting.com