Kolaborasi BBLM Yogyakarta dengan Syncore untuk Memenuhi Antusiasme Pelatihan BUMDES

Ruangan transit tersebut meskipun sederhana tetapi sangat bersih dan nyaman.  Air Conditioner hari itu mampu menjinakkan hari yang panas. Suguhan teh dan kopi serta cemilan tradisional menemani hari yang cukup padat. Hari itu adalah hari kedua Pelatihan Pengelolaan BUMDES Angkatan 2 dan Angkatan 3 yang dilaksanakan di Balai Besar Latihan Masyarakat (Yogyakarta) dengan total peserta 60 orang.

“Kita baru saja selesai dengan Kabupaten Sidoarjo, minggu ini ada 4 kabupaten, Wonogiri, Kendal, Purbalingga dan Kebumen. Setelah selesai kita langsung jalan lagi”, Pak M. Hery Salugu menjelaskan sambil menunjukkan papan tulis yang penuh dengan jadwal pelatihan. “Itu baru bulan maret saja…”. BBLM memang bertransformasi dengan cepat, sejak 2015 ditetapkan menjadi Satker Vertikal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Memiliki luasan lebih dari 1 hektar dengan fasilitas terintegrasi mulai dari penginapan, ruang meeting sampai dengan kebun percontohan. Ruang penginapan bisa menampung sampai dengan 60 peserta.

“Tahun ini kami rencana menggelar 20 angkatan pelatihan Bumdes, dan kami senang dari browsing-browsing di internet kami menemukan Syncore yang bisa kami ajak kerjasama”. Syncore adalah konsultan yang memiliki reputasi yang kaya pengalaman dalam pendampingan usaha dan penguatan manajemen, utamanya pengelolaan keuangan. Setelah sukses di pendampingan UMKM, Badan Layanan Umum Daerah, mulai dari tahun 2015, mulai memperluas usahanya untuk mendampingi Bumdes.

WhatsApp Image 2018-03-12 at 10.20.50 AM

Pelatihan di disain selama 6 hari. Pada hari pertama ada team building, penggalian ekspektasi peserta dan pengelompokkan. Pada hari kedua dilanjutkan dengan materi mendasar seperti Filosofi Bumdes, mindset sosial enterprise, pemetaaan potensi dan pemilihan usaha, penyusunan dan perubahan AD/ART. Pada hari kedua dilanjutkan dengan manajerial skills yaitu studi kelayakan dan perencanaan usaha, serta pencatatan dan pelaporan keuangan. Pada hari ketiga masing-masing peserta mengikuti studi lapangan. Pada hari keempat dilakukan presentasi peserta dan penyusunan rencana tindak lanjut di masing-masing, sehingga ketika pulang mereka sudah memiliki konsep apa yang harus dikerjakan.

28618792_1996040323996324_927366161500588611_o

“Itu tolong ruangan B, AC nya segera dibetulin ya”. Pada waktu makan siang panitia melakukaan koordinasi singkat dan evaluasi. Semangat dari pengelola BBLM adalah bagaimana memberikan pelatihan yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan, layaknya pelatihan di hotel. Pada waktu jam makan siang selesai ada bunyi sirene, awalnya kita cukup kaget tetapi selanjutnya diterangkan bahwa artinya waktu istirahat telah habis. “Kita coba membiasakan peserta dan panitia untuk disiplin, kedepan setiap pagi kita akan mulai dengan olah raga ringan, dan kita akan memfasilitasi diskusi ringan waktu malam hari bagi peserta. Sehingga 6 hari disini benar-benar menyenangkan dan efektif’.

28827082_1996040457329644_4594010118765883533_o.jpg

Sesi hari pertama dibuka oleh Bapak Rudy Suryanto Senior Partner Syncore sekaligus founder Sekolah Manajemen Bumdes & forum Bumdes.id, dengan gayanya membakar semangat peserta untuk segera memulai bergerak. “Kalau ada yang mengatakan desa saya tidak ada potensi, itu nikmat mana yang engkau dustakan, desa memiliki air bersih, udara sehat dan sumber daya alam yang melimpah” Pak Rudy menambahkan problem utamanya bukan tidak ada potensi, tetapi bagaimana cara pandang dan pola pikir kita, atau yang dikenal dengan mindset pengusaha. Apabila pengelola Bumdes masih memakai mindset pekerja, apalagi birokrat, maka yang selalu terlihat adalah berbagai kesempitan bukan kesempatan. “Jangan berpikir bisa atau tidak bisa, tetapi berpikir bagaimana caranya bisa”. Pengelola Bumdes harus melatih, membiasakan dan menguasai pola berpikir Social Enterprise , “Tujuan Bumdes bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, artinya harus ada keseimbangan antara profit dan social benefit”. Panjang lebar dijelaskan bagaimana perbedaan antara Bumdes dengan usaha biasa, dan perbedaan Bumdes dengan koperasi.

Selanjutnya dibuka waktu tanya jawab, ada berbagai pertanyaan yang muncul mulai dari badan hukum, NPWP, hubungan Bumdes dengan pihak ketiga, bagaimana Bumdes bisa mengerjakan proyek-proyek di desa, bagaimana memotivasi dan mempertahankan SDM, bagaimana mengatasi konflik-konflik yang muncul. Salah satu pertanyaan yang kami catat dari Kebumen, “Pak Rudy apakah memungkinkan jika kami mengundang Pak Rudy ke Kebumen. Apabila ada 10 orang saja tercerahkan oleh penjelasan pak Rudy, saya yakin kawasan kami Bumdesnya akan maju”.

Kami selalu siap untuk membantu berbagai desa dan daerah menyongsong Kebangkitan Ekonomi Indonesia dari Desa. Saat ini mungkin belum terasa, tetapi tiga tahun lagi orang akan dapat merasakan raksasa ekonomi yang baru lahir, yang bernama Bumdes.

Salam Terus Bergerak. Bumdes Sukses, Desa Sejahtera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *