Jum’at 23Maret, mentari tampak di langit timur Kota Yogyakarta. Sinar menyentuh hangat tubuh peserta Workshop Pengelolaan Desa Kecamatan Jati Agung sebelum menaiki Bus. Lantunan lagu di dalam bus mengiringi para peserta menembus riuhnya jalanan Kota Gudeg. Workshop Pengelolaan BUMDes Pemerintah Desa se – Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan oleh Bumdes.id yang bekerjasama dengan UPK DPAM Jati Agung telah memasuki hari kedua. Sesi studi lapangan dilaksanakan ke beberapa Unit Usaha yang ada di Desa Panggungharjo. Unit usaha yang dikunjungi antara lain Kampoeng Mataraman dan Unit Pengelolaan Sampah.

Penentuan jenis usaha BUMDes memang menjadi persoalan kebanyakan BUMDes yang baru berdiri. Potensi desa masih belum dikenali dengan maksimal. Sekalipun desa tersebut adalah tempat kelahirannya, belum tentu warga desa menyadari potensi yang bisa dimanfaatkan di desanya. Perlunya wawasan untuk menemukan ide usaha yang akan dikembangkan.

Pengelola BUMDes perlu memiliki jiwa social enterpreneur. Selain memiliki jiwa usaha, pengelola BUMDes diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat desa. Keyakinan yang tinggi serta bekerja keras adalah kiat yang harus senantiasa dipegang karena masing-masing BUMDes memiliki kesempatan yang sama untuk memajukan desanya.

Kampoeng Mataraman, salah satu unit usaha BUMDes yang ada di kawasan Desa Panggungharjo. Budaya yang dilestarikan Desa Panggungharjo terkait dengan kebutuhan pokok manusia; papan, sandang, pangan membuka potensi yang kemudian dikemas dalam suatu unit usaha. Nilai tradisional juga disisipkan sebagai jati diri Orang Jogja, khususnya warga Desa Panggungharjo.

Panji Kusuma, Kepala Unit Usaha Kampoeng Mataraman

Panji Kusuma selaku salah satu dari pemateri studi lapangan ini mengatakan bahwa seni dan budaya menjadi bernilai jika dimanfaatkan pada hal yang tepat dan dapat dijadikan inspirasi untuk membangun usaha yang menguntungkan. Harapannya warga desa dapat merubah cara pandangnya dalam memaksimalkan potensi yang ada dari sesuatu yang bahkan sebelumnya dipandang sebelah mata.

Berdirinya Kampoeng Mataraman bukan berarti mematikan usaha masyarakat kecil. Kampoeng Mataraman melibatkan para pedagang di desa Panggungharjo untuk memasarkan produk khas desa. Adanya sinergitas antara BUMDes dan masyarakat ini dalam rangka mengangkat budaya desa supaya dikenal secara luas.

“Mereka yang berdagang di pasar dia bisa berjualan disini. tetapi yang jualan harus warga asli desa Panggungharjo.”, jelas Panji

Eko Pambudi, Direktur BUMDes Panggung Lestari

Acara yang terlaksana pada 23/03/2018 ini juga menghadirkan beberapa pemateri yaitu Yuli Trisniati, Sekretaris Desa Ponggok dan Eko Pambudi, Direktur BUMDes Panggung Lestari. Selain berkunjung ke Kampoeng Mataraman, peserta yang didampingi Tim Bumdes.id mendatangi ke Balai Desa Panggungharjo dan Unit Pengelolaan Sampah. Unit tersebut dalam tahap mengembangkan berbagai jenis minyak yang akan didistribusikan secara umum.

“Program yang dilakukan bumdes.id itu bagus karena warga desa butuh pengalaman langsung. Semakin banyak ia diperlihatkan desa yang diberdaya saya yakin mereka akan mudah menangkap materi dan muncul ide inspirasi dalam membangun BUMDesnya.”, ujar Panji, Kepala Unit Usaha Kampoeng Mataraman.

Mengetahui potensi yang bernilai akan menimbulkan kesadaran yang bersifat afeksi (kepedulian). Dengan kepedulian tersebut, masyarakat dapat meningkatkan kualitas diri dalam menggerakkan BUMDes dengan cara yang menyenangkan. Konsep Kampoeng Mataraman mengadopsi budaya ndeso. Orang yang berkunjung ke rumah makan berbentuk pendopo ini tidak hanya merasakan menu makanan khas desa tapi bisa menikmati suasana dan melihat keunikan SDMnya. Warga dapat merasakan manfaat dari adanya unit usaha tersebut sebagaimana BUMDes dalam visinya untuk mensejahterakan masyarakat telah dipenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *